Permulaan Setiap Manusia (Tinjauan Kritis)

Pembaca yang dimuliakan Allah SWT kita bersyukur kepada Allah atas limpahan nikmat yang diberikan kepada kita sehingga sampai saat ini kita masih senantiasa bisa beribadah kepada Allah SWT. 

Yang kedua kita bersholawat kepada baginda nabi agung kita; nabi muhammad SAW yang mengajarkan kepada kita berbagai macam kebaikan untuk kita teladani dan mengabarkan kepada kita berbagai macam keburukan untuk kita jauhi.

Ketahuilah bahwasannya segala sesuatu di dunia ini memiliki permulaan, dari yang sebelumnya tidak ada kemudian menjadi ada. Tentu bukan karena tanpa alasan, melainkan ada sebuah hikmah dibalik keberadaan itu. Manusia sebagaimana ciptaan yang lain pun demikian memiliki permulaan di dalam proses penciptannya.

Imam Ibnu katsir menyebutkan di dalam kitab Al-bidayatu Wan-Nihayah bagaimana kisah manusia pertama di dunia ini, Adam ‘alahi salam dan Hawa, beliau berkata yang maknanya :

“Allah SWT memulai penciptaan manusia dari tanah kemudian Ia menjadikan keturunannya berasal dari air yang hina (air mani) yang berada di tempat yang kokoh (rahim seorang ibu), kemudian Allah menciptakan untuknya pendengaran dan penglihatan yang sebelumnya belum bisa disebut sebagai sesuatu (manusia), kemudian Allah SWT memuliakannya dengan ilmu dan pengajaran. Allah menciptakan Adam as; bapak dari seluruh manusia langsung dengan tanganNya kemudian Ia membentuknya dan kemudian meniupkan kepadanya ruh, kemudian Allah memerintahkan kepada malaikat-malaikatNya untuk bersujud kepada Adam ‘alaihi salam. Kemudian dari adam Allah menciptakan istrinya Hawa; ibu seluruh umat manusia. Dengan penciptaan Hawa, Allah menghibur kesepian Adam dan Allah tempatkan ia bersamanya di surga dan menyempurnakan nikmatNya kepada keduanya. Kemudian Allah menurunkan keduanya ke bumi dengan hikmah yang ada di balik itu. Kemudian Allah SWT mengembang biakkan dari Adam dan Hawa laki-laki dan perempuan.” (Lihat kitab Al-bidayatu Wan-nihayatu juz 1, hal 3)


Dari pemaparan imam Ibnu katsir dapat kita simpulkan bahwa manusia pertama di dunia ini adalah Adam ‘alaihi salam, kemudian disusul istrinya yang bernama Hawa. Tidak sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang, bahwa manusia itu adalah hasil evolusi dari primata kuno. Bahwa manusia dan simpanse memiliki hubungan dekat - jika tidak dikatakan memiliki nenek moyang yang sama - yang kemudian karena tuntutan alam ia berevolusi menjadi manusia modern. Padahal di dalam Al-Qur’an dengan sangat jelas Allah menyebutkan penciptaan Adam alaihi salam sebagai manusia pertama. Allah SWT berfirman :

“ Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat bahwa sungguh Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah” (QS. Shad : 71)


Di dalam ayat lain Allah SWT berfirman yang maknanya :

“Ia (Allah) berkata: Wahai iblis apa yang menahanmu untuk bersujud kepada zat (Adam) yang telah aku ciptakan dengan kedua tanganKu, apakah kamu menyombongkan diri atau kamu merasa termaksud di antara orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi” (QS. Shad : 75)


Allah SWT juga berfirman bahwa manusia adalah makhluk yang paling baik dan sempurna penciptaannya dibanding makhluk yang lain. Allah SWT berfirman yang maknanya :

“ Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (Qs. At-Tin : 4)

Di dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa saat Allah ingin menciptakan Adam as. Allah mengambil sebongkah tanah dari berbagai penjuru bumi ini (di dalam riwayat lain Allah memerintahkan malaikatNya untuk mengambilkan tanah tersebut). Sehingga itulah akibat mengapa manusia memilik bentuk yang berbeda-beda. Ada di antara mereka yang kulitnya berwarna putih, ada juga yang berwarna merah, ada juga yang berwarna hitam dan lain sebagainya. (Lihat kitab Al-Bidayah Wan Nihayah Juz 1, Hal 200)


Setelah tanah tersebut berbentuk manusia, Allah meniupkan kepadanya ruh sehingga kemudian ia bisa bergerak dan hidup sebagaimana yang bisa kita rasakan seperti saat ini. Sesaat setelah Allah menciptakan Adam as, Ia memerintahkan kepada makhluk yang ada di sisiNya untuk bersujud kepada Adam as. Semuanya bersujud kecuali iblis. Ia sombong terhadap diri sendiri dan enggan mematuhi perintah Allah. Allah pun murka kepadanya dan menjauhkan iblis dari rahmatnya. Dari sini iblis pun bersumpah akan menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Mengganggu mereka sehingga mereka keluar dari kebaikan. Tujuannya adalah agar saat datang hari pembalasan iblis tidak ingin disiksa di neraka sendiri, ia ingin bersama dengan kawan-kawannya yang sama-sama tidak patuh kepada Allah SWT. 


Demikianlah kisah penciptaan manusia yang pertama. Lantas kemudian Allah menjadikan di alam ini hukum yang berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkannya. Bahwa Allah menjadikan manusia yang awalnya hanya satu kemudian menjadi banyak dan bertebarang di muka bumi ini, yang saat ini bahkan sudah ada yang mampu sampai ke angkasa melalui alat bantu astronomi. Allah SWT berfirman yang maknanya :


“ Wahai manusia! Bertakwalah kepada Allah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Ia menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri) nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak” (Qs. An-Nisa : 1)


Begitulah cara Allah menciptakan manusia. Awalnya Allah langsung menciptakan manusia pertama langsung dengan kedua tanganNya. Kemudian Allah menjadikan Adam dan Hawa sebagai wasilah atau sebab keberadaan manusia setelahnya. Dan menjadikan hukum yang berlaku di alam semesta ini hukum sebab akibat. Yaitu hidup dengan berpasang-pasangan agar generasi manusia selalu berlanjut dan tidak punah. Makanya sangat disayangkan apa yang sedang terjadi di dunia sekarang ini. Bagaimana anggapan tentang menikah dengan sesama jenis adalah hal yang perlu dimaklumi. Padahal tidak demikian, karena dia disamping sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah SWT, juga keluar dari fitrah manusia. Tidak ada yang melakukannya kecuali kaum nabi Luth yang kisah kehancurannya digambarkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an dengan sangat mengerikan. Bagaimana Allah jungkir balikkan mereka dan menghujani mereka dengan batu yang sangat panas dari neraka. Bayangkan saja jika hal ini benar-benar terjadi; menikah dengan sesama jenis, niscaya populasi manusia akan berkurang jika tidak dikatakan punah dari muka bumi ini.

Lantas bagaimana proses penciptaan manusia setelah Adam as ?

Hal ini juga dengan cukup eksplisit digambarkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an serta dijelaskan oleh nabiNya di dalam hadistnya. Dan ini terbukti di dalam dunia kedokteran modern. Padahal zaman dahulu ilmu kedokteran ini belum muncul. Bukan hanya berkaitan dengan waktu tetapi berkaitan juga dengan tempat. Tidak ada tanda-tanda bahwa ilmu tentang perkembangan embrio di dalam rahim seorang ibu itu dipelajari pada masa itu dan di tempat tersebut (jazirah arab pada zaman nabi SAW). Ilmu embriologi modern muncul pada abad ke 19. Itupun munculnya di barat, bukan di jazirah Arab yang tandus. (Lihat Wikipedia Tentang Embriologi. Diakses pada kamis, 26 Februari 2026 M)


Lantas kenapa dengan sangat percaya diri Al-Qur’an dapat berbicara tentang tahapan-tahapan penciptaan manusia dan kemudian sangat serasi dengan ilmu embriologi modern ?! Bukan suatu kebetulan, melainkan itu adalah bukti kebenaran, bahwa islam adalah agama yang benar dari Tuhan pemilik alam semesta. Allah SWT berfirman yang maknanya :


“Maka mengapa mereka tidak menghayati Al-Qur’an ? sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya” (Qs. An-Nisa : 82)

Diantara ayat-ayat yang berbicara tentang fase-fase perubahan manusia saat berada di dalam perut seorang ibu adalah firman Allah SWT yang maknanya :

“Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sungguh kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan di dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya”. (Qs. Al-Hajj : 5)


Di dalam ayat lain Allah SWT berfirman yang maknanya :

“Dan sungguh Kami telah menciptkan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami menjadikannya air mani (yang disimpan) di dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu dari segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, pencipta yang paling baik”. (Qs. Al-Mukminun : 12-14)


Jadi urutan yang disebutkan oleh Al-Qur’an di atas adalah,

- Tanah

- Air Mani

- Segumpal Darah

- Segumpal Daging

- Tulang Yang terbungkus oleh daging

- Makhluk yang diberi ruh.


Imam At-Thabari menjelaskan di dalam tafsirnya makna ayat di atas. Beliau menyebutkan banyak pendapat dan merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa maksud tanah di sini adalah Allah menciptakan manusia pertama itu dari tanah secara langsung, yaitu Adam as. Kemudian Allah menciptakan manusia setelah Adam itu berasal dari air maninya yang di sebut di dalam Al-Qur’an sebagai nutfah. Kemudian Allah jadikan air itu berada di dalam rahim seorang ibu. Kemudian Allah mengubah bentuknya menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian menciptakan untuknya tulang, yang kemudian tulang itu dibungkus dengan daging, kemudian ditiupkan kepadanya ruh sehingga ia menjadi makhluk yang hidup di dalam perut ibunya. ( Lihat Tafsir At-Thabari, Juz 17, Hal 18-24 )


Walaupun tidak secara eksplisit beliau sudah sangat mendekati kesempurnaan penjelasan. Sebab di dalam dunia kedokteran memang dikatakan bahwa air milik laki-laki yaitu sperma dan air milik perempuan yaitu sel telur bertemu dan berubah menjadi zigot yang senantiasa membelah diri disamping ia berjalan menuju rahim seorang ibu untuk mendapatkan asupan di sana. (Lihat ALODOKTER. Diakses pada kamis, 26 Februari 2026 M)


Namun ada ayat yang menerangkan tentang hal ini. Artinya memang pada ayat ini pertemuan antara sel sperma dengan sel telur tidak disebutkan pada ayat ini, tapi di ayat lain ada dan sangat sekplisit penjelasannya. Ayat tersebut mengisyaratkan percampuran antara keduanya dikenal dengan istilah nutfah amsyaj (air milik laki-laki dan perempuan ketika bertemu). Allah SWT berfirman yang maknanya :

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dari air mani yang amsyaj (bercampur).

Imam Ibnu katsir di dalam tafsirnya berkata bahwa makna nutfah amsyaj adalah air milik laki-laki dan air milik perempuan ketika bercampur. Karena di zaman beliau yaitu abad ke-14 ilmu kedoketeran modern belum muncul sehingga beliau hanya berkata demikian; tidak secara eksplisit, walaupun masih lebih baik daripada anggapan aristoteles bahwa manusia tercipta melalui darah haid seorang perempuan. Aristoteles beranggapan demikian karena memang alat pembesar atau yang dikenal dengan sebutan mikroskop itu belum ada. Dunia kedokteran bisa berkata dengan percaya diri tentang fase penciptaan manusia dari satu ke bentuk yang lain, setelah mereka menemukan mikroskop. (Lihat kitab Ilmul Ajinnah Fi Dhauil Qur’an Was Sunnah Hal 12 )


Begitupula di zaman para ulama tafsir, mikroskop belum ditemukan. Misalkan Imam At-Thabari yang penulisnya hidup pada abad abad ke-9 dan ke-10. Pada masa itu ilmu tentang embriologi modern belum dibicarakan. Sebab ilmu tentang embriologi ini, sejak tahun 200 M sampai abad ke-16 belum ditulis sebagai sebuah karya yang terbukti secara ilmiah. Ia sudah dibicarakan tetapi hanya sekedar klaim-klaim yang tidak berdasar. (Lihat Ilmul Ajinnah Fi Dhauil Qur’an Was Sunnah hal 10-12. Dibahas pada mu’tamar al-’alami al-awwal lil i’jazil ilmi fil Qur’an Wasunnah di Islamabad Pakista 1987 M )


Barat baru bisa membuktikan secara ilmiah tentang fase penciptaan manusia di dalam perut ibunya setelah ditemukannya alat pembesar atau mikroskop yang bisa melihat perkembangan manusia di dalam perut ibunya. Menyebut barat di sini bukan berarti menyudutkan tetapi lebih kepada kabar bahwa memang peradaban ilmu masa kini dikembangkan oleh mereka. 


Mikroskop mulai ditemukan pada abad ke-16 itupun yang menemukannya adalah bangsa eropa bukan seseorang yang bernama Muhammad SAW dari bangsa arab yang hidup jauh dari kekuatan-kekuatan besar yang telah memiliki tonggak sejarah peradaban yang cukup lama seperti kekaisaran romawi dan persia. Ilmu pengetahuan di jazirah arab itu sangat-sangat terbatas; tidak ada tanda-tanda peradaban ilmu. Tenaga masyarakatnya habis terkuras hanya untuk perang antar suku. Setelah mereka menjadi muslim, mereka baru bisa mengembangkan peradaban ilmu yang menjadi mercusuar dunia, saat mereka mulai bersentuhan dengan peradaban lain; peradaban romawi di barat dan peradaban persia di timur tatkala imperium-imperium tersebut kalah di dalam mempertahankan kekuasaan. (Lihat Falfasah Pendidikan Islami Oleh Prof. Dr. Al-Rasyidin M.Ag hal 183).


Misalnya kekuasaan dinasti Umawiyah yang mengembangkan ilmu pengetahuan di Damaskus. Berdiri sejak tahun 662 M dan runtuh pada tahun 750 M. Kemudian pindah ke Andalusia yang berdiri pada tahun 756 M dan berakhir pada tahun 1031 M. Begitupula kekuasaan dinasti Abbasiyah berdiri sejak tahun 750 M dan runtuh pada tahun 1258 M. Lebih dekat lagi yaitu kekuasaan dinasti Utsmaniyah yang berdiri sejak tahun 1299 M dan runtuh pada tahun 1923 M. ( Lihat Wikipedia. Diakses pada Jum’at 27 Februari 2026 M).


Walaupun kemudian peradaban-peradaban islam di atas menjadi mercusuar yang menerangi dunia dengan ilmu pengetahuan tapi belum ditemukan catatan yang menerangkan bahwa Mikroskop itu ditemukan oleh seorang ilmuwan muslim yang hidup mada masa-masa kekuasaan islam di atas. Sebab memang awal munculnya mikroskop itu di barat oleh dua orang bersaudara asal belanda yang bernama Hans dan Zacharias Janssen pada akhir abad ke-16. (Lihat Warung Sains Teknologi. Diakses pada Jum’at 27 Februari 2026 M)


Adapun penemuan optik oleh Ibnu Al-Haiystam - yang hidup pada abad ke-10 M sampai ke-11 M - yang merupakan dasar dari munculnya mikroskop tidak bisa dijadikan alasan sebab ia juga baru muncul setelah Al-Qur’an selesai diturunkan oleh Allah SWT dengan wafatnya nabi Muhammad SAW pada abad ke-5 M. 


Tidak untuk mengecilkan peran islam sebab sebenarnya peradaban barat juga bisa berkembang seperti sekarang ini, muncul setelah belajar dari orang-orang islam yang sukses mengembangkan ilmu pengetahuan barat dan timur pada masa itu. Hanya saja sekali lagi, kita ingin menekankan bahwa jika memang seperti itu faktanya dari mana Nabi Muhammad SAW dengan Al-Qur’an mampu menerangkan dengan sangat spesifik fase-fase perubahan bayi di dalam perut ibunya, padahal saat itu tidak ada mikroskop ?! Bukankah ini suatu keajaiban ?!. 


Makanya tidak heran saat Prof Keeith L. Moore seoranag Profesor embriologi dan penulis buku terkenal The Developing Human memeluk islam setelah meneliti tentang perubahan-perubahan bentuk manusia di dalam perut ibunya sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Al-Qur’an. Buku beliau di atas menjadi referensi mahasiswa fakultas kedokteran di dunia. (Lihat REPUBLIKA. Diakses pada Jum’at 27 Februari 2026 M)


Dari sini dapat diketahui bahwa maklumat tentang emberiologi itu sudah diisyaratkan oleh Al-Qur’an. Bukan hanya di satu tempat tapi di banyak tempat Al-Qur’an menyinggung hal ini. 


Misalnya saja Al-Qur’an mengatakan bahwa manusia diciptakan dari air yang terpancar. Allah SWT berfirman yang maknanya “Dia (manusia) diciptakan dari air (mani) yang terpancar” (Qs. At-Thariq : 6)


Yang mana air itu berasal dari sulbi (tulang belakang) dan taraib (tulang bagian depan) pria dan wanita. Allah SWT berfirman yang maknanya “Yang keluar dari tulang punggung dan tulang dada”. (Qs. At-Thariq : 7)


Di dalam sebuah penelitian oleh Mahmud Abdullah Ibrahim Naja yang diterbitkan oleh Multaqa Ahlit Tafsir pada 10 Oktober 2025 M, saaat beliau menerangka sebuah ayat yang berkaitan dengan fase penciptaan manusia. Beliau berkata, Allah SWT berfirman :


فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ. خُلِقَ مِن مَّاءٍ دَافِقٍ. يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ. إِنَّهُ عَلَىٰ رَجْعِهِ لَقَادِرٌ

Maknanya :

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan” (Qs. At-Thariq : 5)


في الآيات إنتقال من العام للخاص، فكلمة ماء نكرة تحتمل أنواع عديدة، دافقة، أو غير دافقة، فجاءت صفة دافق لتصرف الأذهان عن الماء غير الدافق، ولكن للماء الدافق أنواع كثيرة، بعضها يدخل في الخلق ماء الخصية، وماء المبيض، وبعضها لا يدخل في الخلق ماء الحوصلة المنوية، وماء البروستاتا الذكرية والأنثوية، وللتفريق جاء الإطناب البديع يخرج من بين الصُلب والترائب، والتي ستشير بجلاء للماء الدافق للخصية والمبيض، فأصلهما من الصُلب والترائب، وتنفي الخلق من باقي أنواع الماء الدافق، لأن اصولها ليست من الصُلب والترائب


Maknanya : 

“pada ayat di atas terdapat perpindahan dari kata yang umum ke kata yang khusus, sebab kata air (pada pria dan wanita) itu adalah nakirah yang memiliki kemungkinan berbagai macam air, baik dia terpancar maupun yang tidak terpancar. Datang kemudian kata dafiq (terpancar) untuk menyifati air tersebut, menjadikan air yang tidak terpancar tidak masuk di alam ayat ini. Kemudian ternyata air yang keluar dengan terpancar itu juga bermacam-macam, sebagian ada yang menjadi sebab terciptanya manusia seperti air yang berasal dari testis pria (sperma) dan berasal dari ovarium atau dinding telur pada wanita (ovum). Adapun sebagian yang lain tidak bisa menjadi sebab terciptanya manusia seperti air mani atau cairan semen pada pria (yang berfungsi melindungi sperma) dan cairan prostat pada pria dan wanita, sehingga untuk membedakan antara cairan sperma serta ovum dengan cairan-cairan yang lain datang pada ayat itu kalimat yang mengatakan bahwa sperma dan ovum itu berasal dari sulbi (tulang belakang) dan taraib (tulang bagian depan) pada pria dan wanita, keduanya berasal dari sulbi dan taraib berbeda dengan cairan terpancar yang lain, sebab asal mereka bukan dari sulbi dan taraib. (Lihat Multaqa Ahlit Tafsir. Tema Al-I’jazu Fii Tasybiyhi Raj’il Insan Bil Khalqi Min Main Dafiq Yakhruju Min Aslaini Mutafarriqayni; Juz’un Minas Sulbi Wajuz’un Minat Taraib oleh Mahmud Abdullah Ibrahim Naja. Diakses pada Senin, 2 Maret 2026M)


Ini adalah satu di antara bukti-bukti ilmiah bagaimana Al-Quran sudah berbicara masalah penciptaan manusia padahal ia muncul di jazirah arab yang notabenenya saat itu adalah peradaban yang tertinggal dari peradaban-peradaban dunia. Sebenarnya masih banyak bukti-bukti lain yang tidak ditulis di sini. 

Lantas saat manusia telah mengetahui hakikat penciptaan dirinya, bahwa ia adalah hamba Allah SWT teryata sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan penciptanya. Bukankah seakan-akan dia menafikan keberadan dirinya sendiri di dunia ?! Allah SWT berfirman yang maknanya :


“Dia telah menciptakan manusia dari mani, ternyata dia menjadi pembantah yang nyata” (Qs. A-Nahl : 4)

Demikianlah proses penciptaan manusia, semoga kita selalu bertakwa kepada Allah SWT; Tuhan alam semesta.


Wallahu a’lam bis Showab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jiwa & Lingkungannya

Menyadari Kembali Hakikat dari Penciptaan