Menyadari Kembali Hakikat dari Penciptaan

Saat seseorang baru pertama kali melihat pesawat dia akan takjub bahwa ada benda besar yang mengangkut manusia bisa terbang di atas langit, begitu juga saat seseorang baru pertama kali melihat kapal yang bisa menyelam di dalam lautan, tidak sedikit yang takjub dan terheran-heran dengan hal itu. Artinya seseorang akan terpesona dengan hal yang menakjubkan.
 
Di dalam hal ini ada dua sebab yang saling berkaitan yang menjadikan seseorang itu takjub, pertama bahwa ia tidak pernah melihat hal tersebut, yang kedua bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang unik dan luar biasa, jika satu dari kedua hal tersebut hilang maka sifat kagum di dalam diri seorang juga akan ikut hilang. Sehingga walaupun hal tersebut merupakan sesuatu yang unik dan menakjubkan, keajaibannya tidak bisa dirasakan. Berarti kedua hal itu harus terpenuhi, itulah yang terjadi pada hal-hal unik lainnya.
Muncul pertanyaan bagaimana dengan hal-hal unik yang dianggap biasa oleh seseorang ? Sifat unik tetap akan melekat pada hal tersebut akan tetapi ia sudah menjadi hal yang biasa oleh orang tersebut lantaran seseorang telah terbiasa dengan hal-hal tersebut sehingga menjadikan ia lalai dari melihat kembali hakikat dari ciptaan tadi.
 
Pergantian siang dan malam adalah hal yang unik dan luar biasa, hanya saja ia menjadi biasa karena seseorang terbiasa dengan kejadian-kejadian tersebut. Berarti ada satu faktor yang hilang yaitu telah dilihat bahkan sering dilihat oleh manusia karena kejadiannya berulang-ulang. Seandainya saja seseorang tidak pernah melihat siang dan malam - buta misalnya - saat sembuh dari penyakit buta pasti dia akan terkagum-kagum dengan kejadian alam yang luar biasa tersebut.
 
Jika kecanggihan teknologi yang didapatkan hari ini menjadikan seseorang terkagum-kagum dengan temuan-temuan tersebut, sampai bahkan ada yang mengagung-agungkan dengan pengagungan yang tidak sewajarnya untuk penemunya lantas kenapa pengagungan itu luput dari manusia untuk penciptanya sendiri ?!
 
Bahwa langit bisa berdiri tanpa tiang penyanggah, seandainya tidak ditahan oleh Nya niscaya langit itu akan jatuh menimpa bumi dan seluruh alam. (lihat Surah Fathir : 41), juga seandainya siang terjadi terus menerus atau malam terus menerus, tentu tidak akan ada kehidupan di bumi ini. (Lihat Surah Al-Qashah : 71-72). Demikian juga gunung sebagai pasak untuk menahan bumi, lautan dengan segala ekosistemnya yang terbukti saat ini menyimpan berbagai hal luar biasa, matahari yang terbit dan tenggelam, yang semuanya merupakan kejadian alam yang sebenarnya sangat luar biasa, tapi sayang luput dari diri manusia kecuali yang dirahmati Allah.
 
Bukan karena semua itu tidak menakjubkan tapi lebih kepada kelalaian yang terjadi pada diri seseorang. Padahal Allah berfirman agar jangan sampai menjadi orang-orang yang lalai (Liha Surah Al-A'rof : 205)
 
Itulah sebabnya orang yang telah meninggal saat meminta dikembalikan di bumi untuk beramal, Allah tidak mengabulkan permohonannya, karena Allah mengetahui bahwa ia akan lalai kembali. Oleh karenanya hendaknya setiap orang sadar sebelum terlambat.
 
Dari sini bisa kita simpulkan bahwa jika seseorang telah terbiasa melihat hal-hal yang menakjubkan tadi sehingga menjadi hal yang biasa maka cara untuk mempertahankan kekaguman tersebut adalah dengan bertafakur; memikirkan hal-hal tadi dengan sebenar-benarnya. Seseorang jangan sampai acuh atau tidak perduli dengan hal itu.
 
Banyak ayat di mana Allah memerintahkan seseorang untuk bertafakur, karena dengannyalah seseorang akan takjub dengan ciptaan-ciptaan Allah. Sebagaimana Allah berfirman di dalam Surah Ali-Imran ayat 191.
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
 
Menjadikan sesuatu yang sering dilihat atau sering terjadi menjadi sesuatu yang seakan-akan baru itu bisa terasa kembali dengan bertafakur. Ada sebuah perkataan dari Imam Hasan Al-Basri bahwa bertafakkur sejenak lebih baik dari pada mengerjakan shalat malam. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah)
 
Di kehidupan nyata seseorang yang lalai benar-benar memiliki berbagai perangkat menimbang dan memikirkan sesuatu akan tetapi semua itu bisa menjadi sia-sia, jika tidak terpakai. Hati, mata dan telinga walaupun ada pada diri seseorang seakan-akan tidak ada, lantaran tidak difungsikan untuk hal yang seharusnya. Oleh karenanya setiap orang perlu menyadari bahwa tidak menggunakan akal untuk bertafakur menjadikan seseorang lupa terhadap Allah yang telah menciptakan berbagai hal yang unik dan menakjubkan, termaksud diri manusia itu sendiri.
 
Hati, mata dan telinga itu ada di dalam diri setiap orang tapi sayang kadang tidak difungsikan untuk hal-hal penting yang bermanfaat untuk diri; menjamin kebahagiaan yang hakiki. Para ulama berkata bahwa tugas pertama seorang manusia yang hidup di dunia ini adalah mengenal Tuhannya. Karena darinya segala sumber kebaikan berasal.
Tidak berfungsinya perangkat-perangkat itu bisa terjadi karena satu hal yaitu lalai sehingga menjadikan seseorang tidak takjub dengan pergantian siang dan malam, langit berdiri tanpa tiang, bumi yang terhampar, matahari yang terbit dan tenggelam, lautan yang indah, hujan yang turun, tumbuhan yang hijau, serta tahapan penciptaan manusia yang disebutkan cukup detail di dalam Al-Qur'an yang turun kurang lebih seribu tahun yang lalu, sebelum munculnya ilmu embriologi modern yang menjadi pelengkap untuk meyakinkan manusia akan kebenaran Al-Qur'an, bukankah semua hal itu menunjukan kepada keberadaan dan kekuasaan Allah ? jawabannya adalah "iya sangat cukup" hanya saja terkadang
manusia itu lalai, oleh karenanya berpikirlah karena dengannya seseorang bisa memahami hakikat segala sesuatu.
 
Wallahu a’lam bis showab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permulaan Setiap Manusia (Tinjauan Kritis)

Jiwa & Lingkungannya

Nasehat & Tatanan Masyarakat