Jiwa & Lingkungannya
Jiwa & Lingkungannya
Manusia tatkala dilahirkan di dunia ini tidak mengetahui sesuatu apapun sedikit pun. Ia diberi bekal berupa pendengaran, penglihatan dan hati untuk mendapatkan pengetahuan. Dengan pengetahuan memilih berbagai pilihan dan berusaha di dalam meraihnya.
Di dalam pembagiannya manusia terbagi menjadi dua jenis pertama manusia yang baik dan yang kedua manusia yang tidak baik. Baik dengan berbagai macam tingkatkannya dan buruk juga dengan berbagai macam tingkatannya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an bahwa manusia saat diciptakan diberi dua pilihan amal, yaitu amal kebaikan dan amal keburukan. (Lihat QS Asy-Syams : 8)
Baik di dalam hal ini adalah berdasarkan tinjauan syariat islam bukan berasal dari manusia itu sendiri. Hal itu karena Allah adalah Tuhan pencipta dan pembimbing manusia kepada kebenaran. Ia lebih tahu apa yang baik untuk hamba-hambanya. Di samping itu manusia juga dengan fitrah yang dibekali oleh Allah SWT bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan. Makanya ada nilai-nilai kebaikan yang bersifat universal. Semua agama mengajarkannya, bahkan yang tidak beragama pun bisa jadi mengakuinya. Seperti nilai keadilan, tolong menolong dan lain sebagainya. Hal itu karena fitrah manusia sudah diseting oleh Penciptanya; Allah SWT untuk mencintai kebaaikan dan membenci keburukan.
Kemudian seseorang bisa disebut sebagai orang yang baik jika kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya begitupun sebaliknya seseorang bisa disebut sebagai orang yang tidak baik jika kepribadiannya lebih condong ke arah tersebut.
Lantas kenapa hal itu bisa terjadi ?
Jika manusia - sebagaimana dikatakan nabi adalah orang yang berada di dalam keadaan fitrah (baik) saat dilahirkan - berarti ada hal-hal luar yang baru saja mempengaruhinya. Jika hal-hal itu adalah kebaikan maka kemungkinan besar ia akan menjadi orang yang baik, sedangkan jika sebaliknya maka kemungkinan sifat tidak mematuhi pencipta akan terjadi pada diri orang tersebut.
Berarti segala hal yang ada diluar, sesaat setelah seseorang dilahirkan di dunia ini adalah pendidik yang mendidik jiwa seorang manusia. Sebab sebenarnya pendidikan tidak hanya terbatas di ruang belajar, ia lebih luas daripada itu. Jika di ruang belajar seseorang bisa mengembangkan sekian potensi tapi itu hanya sekian hal dari berbagai pengetahuan yang bisa menambah bekal untuk kehidupannya. Artinya ia tidak kompleks untuk menutupi kebutuhan yang paling penting di dalam kehidupan ini. Sebab sebelum seorang masuk duduk di bangku sekolah sebenarnya dia sudah mengalami masa pendidikan jiwa yang panjang di luar sana.
Singkatnya ada hal penting yang tidak bisa di samakan jika persamaannya tidak sebanding, lantas adakah hal yang menyamai pentingnya pengetahuan kepada Allah SWT ?. Adakah yang bisa menyamai pengetahuan berbagai hal pokok di dalam agama ?. Para ulama berkata bahwa tugas utama hati setiap manusia adalah mengenal Tuhan penciptanya. Hal itu agar orientasi kehidupannya di dunia ini di landaskan atas pengabdian kepada penciptanya bukan hanya sekedar hidup asal-asalan.
Di dalam Al-Qur'an Allah sering mengulang-ulang perihal iblis dan keturunannya yang telah bersumpah akan menjadikan manusia durhaka kepada penciptanya. Berarti setiap manusia bahkan walaupun belum melihat dunia ini telah terancam oleh sumpah iblis itu.
Tujuan iblis did alam hal ini cukup jelas dan langkahnya sama dengan tujuannya. Ancamannya jelas tidak ada yang samar. Lingkungan yang tidak baik; jauh dari Allah SWT merupakan salah satu di antara penyebab seseorang tergelincir dari kebenaran. Hal ini sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tentang pentingnya memilih lingkungan yang baik.
Jika lingkungannya tidak baik maka hasilnya sudah bisa dibayangkan begitupula sebaliknya. Hal ini jelas sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bahwa yang menjadikan seseorang bayi manusia yang baik menjadi buruk adalah ayah dan ibunya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang maknya bahwa, semua orang dilahirkan di dalam keadaaan fitrah (mengabdi keapa Allah) hanya saja ayah dan ibunyalah yang menjadikan ia yahudi, nasrani ataupun majusi. (Lihat Shahih Muslim)
Ayah dan ibu adalah lingkungan pertama untuk seorang manusia, menjadikan meraka berdua adalah orang yang pertama-tama yang mempengaruhi jiwa bayi manusia yang baik tadi. Jika keduanya baik maka ia akan tumbuh di dalam kebaikan sedangkan jika buruk maka ia akan tumbuh di dalam keburukan. Hatinya yang bersih akan terkotori, sedang mata dan telinganya akan menjadi wasilah untuk mengambil berbagai pengetahuan yang tidak baik.
Di dalam tingkatan berikutnya di dalam priode kehidupan manusia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih saja mengingatkan perihal lingkungan ini. Hal ini tidak lain karena gambaran akhir kehidupan seseorang tidak akan jauh dari apa yang telah ia kumpulkan di dalam perjalanan nyata ini; kebaikan ataupun keburukan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda, yang maknanya bahwa perilaku seseorang itu bergantung dengan perilaku sahabat dekatnya. (Lihat Musnad Imam Ahmad)
Beruntunglah mereka yang hidup dikelilingi oleh orang-orang yang baik; beriman, beramal sholeh dan bersungguh-sungguh di dalam proses meraih berbagai kebaikan; yang bermanfaat untuk diri dan alam semesta.
Wallahu A’lam Bis Showab.
Manusia tatkala dilahirkan di dunia ini tidak mengetahui sesuatu apapun sedikit pun. Ia diberi bekal berupa pendengaran, penglihatan dan hati untuk mendapatkan pengetahuan. Dengan pengetahuan memilih berbagai pilihan dan berusaha di dalam meraihnya.
Di dalam pembagiannya manusia terbagi menjadi dua jenis pertama manusia yang baik dan yang kedua manusia yang tidak baik. Baik dengan berbagai macam tingkatkannya dan buruk juga dengan berbagai macam tingkatannya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an bahwa manusia saat diciptakan diberi dua pilihan amal, yaitu amal kebaikan dan amal keburukan. (Lihat QS Asy-Syams : 8)
Baik di dalam hal ini adalah berdasarkan tinjauan syariat islam bukan berasal dari manusia itu sendiri. Hal itu karena Allah adalah Tuhan pencipta dan pembimbing manusia kepada kebenaran. Ia lebih tahu apa yang baik untuk hamba-hambanya. Di samping itu manusia juga dengan fitrah yang dibekali oleh Allah SWT bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan. Makanya ada nilai-nilai kebaikan yang bersifat universal. Semua agama mengajarkannya, bahkan yang tidak beragama pun bisa jadi mengakuinya. Seperti nilai keadilan, tolong menolong dan lain sebagainya. Hal itu karena fitrah manusia sudah diseting oleh Penciptanya; Allah SWT untuk mencintai kebaaikan dan membenci keburukan.
Kemudian seseorang bisa disebut sebagai orang yang baik jika kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya begitupun sebaliknya seseorang bisa disebut sebagai orang yang tidak baik jika kepribadiannya lebih condong ke arah tersebut.
Lantas kenapa hal itu bisa terjadi ?
Jika manusia - sebagaimana dikatakan nabi adalah orang yang berada di dalam keadaan fitrah (baik) saat dilahirkan - berarti ada hal-hal luar yang baru saja mempengaruhinya. Jika hal-hal itu adalah kebaikan maka kemungkinan besar ia akan menjadi orang yang baik, sedangkan jika sebaliknya maka kemungkinan sifat tidak mematuhi pencipta akan terjadi pada diri orang tersebut.
Berarti segala hal yang ada diluar, sesaat setelah seseorang dilahirkan di dunia ini adalah pendidik yang mendidik jiwa seorang manusia. Sebab sebenarnya pendidikan tidak hanya terbatas di ruang belajar, ia lebih luas daripada itu. Jika di ruang belajar seseorang bisa mengembangkan sekian potensi tapi itu hanya sekian hal dari berbagai pengetahuan yang bisa menambah bekal untuk kehidupannya. Artinya ia tidak kompleks untuk menutupi kebutuhan yang paling penting di dalam kehidupan ini. Sebab sebelum seorang masuk duduk di bangku sekolah sebenarnya dia sudah mengalami masa pendidikan jiwa yang panjang di luar sana.
Singkatnya ada hal penting yang tidak bisa di samakan jika persamaannya tidak sebanding, lantas adakah hal yang menyamai pentingnya pengetahuan kepada Allah SWT ?. Adakah yang bisa menyamai pengetahuan berbagai hal pokok di dalam agama ?. Para ulama berkata bahwa tugas utama hati setiap manusia adalah mengenal Tuhan penciptanya. Hal itu agar orientasi kehidupannya di dunia ini di landaskan atas pengabdian kepada penciptanya bukan hanya sekedar hidup asal-asalan.
Di dalam Al-Qur'an Allah sering mengulang-ulang perihal iblis dan keturunannya yang telah bersumpah akan menjadikan manusia durhaka kepada penciptanya. Berarti setiap manusia bahkan walaupun belum melihat dunia ini telah terancam oleh sumpah iblis itu.
Tujuan iblis did alam hal ini cukup jelas dan langkahnya sama dengan tujuannya. Ancamannya jelas tidak ada yang samar. Lingkungan yang tidak baik; jauh dari Allah SWT merupakan salah satu di antara penyebab seseorang tergelincir dari kebenaran. Hal ini sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tentang pentingnya memilih lingkungan yang baik.
Jika lingkungannya tidak baik maka hasilnya sudah bisa dibayangkan begitupula sebaliknya. Hal ini jelas sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bahwa yang menjadikan seseorang bayi manusia yang baik menjadi buruk adalah ayah dan ibunya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang maknya bahwa, semua orang dilahirkan di dalam keadaaan fitrah (mengabdi keapa Allah) hanya saja ayah dan ibunyalah yang menjadikan ia yahudi, nasrani ataupun majusi. (Lihat Shahih Muslim)
Ayah dan ibu adalah lingkungan pertama untuk seorang manusia, menjadikan meraka berdua adalah orang yang pertama-tama yang mempengaruhi jiwa bayi manusia yang baik tadi. Jika keduanya baik maka ia akan tumbuh di dalam kebaikan sedangkan jika buruk maka ia akan tumbuh di dalam keburukan. Hatinya yang bersih akan terkotori, sedang mata dan telinganya akan menjadi wasilah untuk mengambil berbagai pengetahuan yang tidak baik.
Di dalam tingkatan berikutnya di dalam priode kehidupan manusia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih saja mengingatkan perihal lingkungan ini. Hal ini tidak lain karena gambaran akhir kehidupan seseorang tidak akan jauh dari apa yang telah ia kumpulkan di dalam perjalanan nyata ini; kebaikan ataupun keburukan. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda, yang maknanya bahwa perilaku seseorang itu bergantung dengan perilaku sahabat dekatnya. (Lihat Musnad Imam Ahmad)
Beruntunglah mereka yang hidup dikelilingi oleh orang-orang yang baik; beriman, beramal sholeh dan bersungguh-sungguh di dalam proses meraih berbagai kebaikan; yang bermanfaat untuk diri dan alam semesta.
Wallahu A’lam Bis Showab.
Komentar
Posting Komentar