Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya

 Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya


Suatu hari, saat saya menghadiri salah satu muhadharah ‘am (umum) bersama teman-teman mahasiswa universitas Al-man yang lain, Syaikh kami pernah berkata menukil seorang ulama yang berkata bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari empat unsur penting. Diantara unsur tersebut adalah akal. Diantara ulama ada yang membedakan antara akal dan hati dan ada juga yang menyamakan antara keduanya. Begitulah kurang lebih apa yang beliau sampaikan.

Jika dipikir-pikir ternyata akal itu memiki persamaan dengan jasad atau tubuh. Akal juga tumbuh dan berkembang. Ia tumbuh seiring dengan pertumbuhan jasad. Hanya saja pertumbuhan jasad ia terlihat, dan terbatas sedangkan akal tidak terbatas, di dalam artian ia bisa mempelajari dan mengetahui banyak hal. Semua orang bisa memiliki tubuh yang sama besar tetapi tidak mesti memiliki akal yang sama besar. Pada intinya keduanya terjadi pada diri setiap manusia yang memulai petualangannya di dunia ini.

Allah SWT di dalam Al-Qur'an menyebutkan bahwa semua manusia saat keluar dari perut ibunya ia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Artinya setiap manusia kondisinya sama pada tingkatan ini, tidak memiliki pengetahuan apa-apa, tidak ada yang berbeda. Semua setara di dalam permulaan; bahwa awal semua orang adalah jahil.

Karena rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala, akhirnya Ia menitipkan kepada setiap manusia pendengaran, penglihatan dan hati nurani, dua yang pertama adalah wasilah untuk mengambil  sebuah ilmu, satu yang terakhir adalah tempat untuk mencerna ilmu tersebut. Dengan mendengar mereka mendapatkan ilmu; begitupula dengan melihat mereka mengambil pengetahuan. Semua itu kemudian pergi mengalir dan tersimpan di dalam hati. Jika ia sering diulang maka ia akan sangat kuat mengakar di dalam ingatan, sedang jika ditinggalkan maka akan hilang sedikit demi sedikit.

Ilmu secara bahsa berasal dari bahasa arab, ia adalah bentuk Masdar dari 'alima-ya'lamu yang berarti mengetahui. Adapun 'ilmu adalah masdarnya yang berarti pengetahuan. Ilmu selama disebut tersendiri masih bebas dari sebuah nilai. Jika disandarkan maka dia akan bermakna sesuai dengan sandarannya. Jika seperti itu berarti ilmu terbagi dua, pertama adalah ilmu yang baik dan yang kedua adalah ilmu yang buruk.

Jika semua ilmu itu tempat pemberhentian terakhirnya adalah hati maka bersih dan buruknya hati tergantung dari seberapa banyak dan sering kebaikan dan keburukan yang  didengar dan dilihat. Oleh karenanya dengar dan lihatlah yang baik-baik dan tutuplah telinga dan mata dari yang buruk-buruk. Karena kedua hal itu bisa jadi bencana untuk hati jika keduanya dipakai untuk mengambil keburukan dan bisa jadi wasilah kebaikan untuknya jika dipakai untuk menggapai berbagai kebaikan.

 

Pada akhirnya kualitas manusia itu di sisi Allah bahkan di sisi sesama manusia tergantung kualitas hatinya. Sebagian ulama berkata bahwa hati itu ibarat raja, sedangkan anggota badan adalah rakyatnya. Semua gerakan dan prilaku rakyat adalah perintah dari sang raja. Berarti hati seseorang bisa dilihat dan diketahui kondisinya -sehat atau sakit, mati atau hidup- dari anggota badannya.

 

Jika akhlak seseorang itu tidak baik maka itu adalah gambaran dari hatinya, sebab sejatinya rakyat hanyalah mengerjakan perintah sang raja. Baik buruknya prilaku terganggu hatinya. Nabi pernah bersabda tentang hal ini di dalam sebuah hadist yang masyhur menerangkan betapa pentingnya menjaga hati kaarena dia punya pengaruh besar untuk diri seseorang, masyarakat bahkan tatananannya. Bahwa hati berserta manusia sebagai pemiliknya punya peran besar terhadap alam ini.

 

Manusia adalah makhluk yang hidup dan punya pengaruh besar di dalam perjalan sejarah bumi. Sebab merekalah yang tinggal di bumi dan yang mengatur serta memanfaatkannya. Itu adalah sebuah kenyataan, sehingga baik buruknya bumi tergantung dari baik buruknya manusia. Hancur dan rusaknya bumi tergantung dari hancur dan rusaknya manusia. Jika manusia yang rusak adalah gambaran dari hati yang rusak maka awal mula petaka di bumi ini adalah hati yang manusia yang bermasalah. Bukankah bumi hanya tempat objektivitas (pelampiasan) manusia ?!! (Lihat Al-Baqarah : 30).

 

Kerusakan akan berdampak pada setiap sisi kehidupan dan skalanya bisa jadi berbeda-beda. Namun walaupun seperti itu, semuanya berada pada tema yang sama, yaitu "menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya". Di dalam islam hal ini disebut dengan kata Zolim. Baik ia kecil maupun besar semuanya tidak disukai oleh Allah SWT. Baik pada tingkat pejabat maupun rakyat biasa, pelajar maupun pekerja. Jadi jika ada pejabat tidur-tiduran saat rapat maka ia sama dengan pelajar tidur-tiduran saat belajar, jika ada pejabat curang di dalam berkerja maka ia sama dengan rakyat biasa yang curang saat berjualan. Jika ada negara yang diam, tidak membantu negeri yang terjajah maka dia hampir sama dengan negeri penjajah. Semua cerita diatas ujung-ujungnya adalah cerita tentang orang yang hatinya bermasalah; sekecil apapun masalah itu.

 

Dari sini maka memperbaiki hati adalah hal yang penting di dalam kehidupan ini, bukankah Rasulullah SAW diutus untuk mengobati manusia-manusia yang hatinya saat itu bermasalah. Berarti memperbaiki hati adalah kewajiban setiap orang, demi terciptanya tatanan hidup yang lebih abaik. Objeknya adalah diri sendiri, keluarga serta masyarakat. Di dalam Al-Qur'an istilah baik untuk diri sendiri adalah "sholeh" sedangkan memperbaiki yang lain adalah "muslih". Jika orang sholeh dan muslih ada banyak di bumi maka otomatis hewan, tumbuhan, daratan dan lautan serta semua apa yang ada di bumi akan ikut baik dan tertata; jauh dari keburukan dan kerusakan. Sebagaimana disebutkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an. (Lihat An-Nahl : 97). 


Hal itu karena lewat perantara orang berimanlah dunia dan tatanannya akan seimbang sebagaimana yang terjadi dimasa-masa dahulu. Pada akhirnya jika hal tersebut kembali terjadi di bumi maka bisa dipastikan semua akan tertata rapi; jauh dari yang namanya kezoliman. 

Lantas jika ada yang bertanya apa yang terjadi pada islam dan masyarakat muslim saat ini ? Bukankah mereka adalah orang-orang beriman yang dijanjikan oleh Allah SWT bisa menjadikan dunia ini tentram ?

Benar, namun dengan syarat jika mereka benar-benar mengikuti petunjuk yang diturunkan. 


Wallahu a’lam bis showab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permulaan Setiap Manusia (Tinjauan Kritis)

Jiwa & Lingkungannya

Nasehat & Tatanan Masyarakat